INFO:
Memasuki hari keenam kampanye Pilwalkot Bogor kemarin, persaingan antar calon sudah mencapai level yang mengkhawatirkan. Saling jegal dengan cara merobek dan mencopot poster lawan kian marak (Radar Bogor, 14/10/2008)
KOMENTAR:
Menghalalkan segala cara dalam meraih segala sesuatu termasuk kekuasaan menjadi tabi'at asli dari demokrasi kapitalisme. Maka, apa lagi yang ditunggu untuk TERAPKAN SYARIAH?!
Tampilkan postingan dengan label Demokrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Demokrasi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 15 Oktober 2008
Rabu, 08 Oktober 2008
Kompromistis akibat Kepentingan Sesaat
INFO :
Menjelang putaran dua Pilbup Bogor, konsolidasi terus digalang tim sukses pasangan Nungki-Endang (Nu Sae) dan Rachmat Yasin-Karyawan Faturachman (Rahman). Tiga pasangan yang gagal ke putaran dua yakni Djurus (Djuher-Rusdi), HMD-N (Maman Daning-Nurdin) dan Sae (Soenmandjaja-Ace Supeli) dikabarkan terus didekati Rahman dan Nu Sae. (Radar Bogor, 06/10/2008)
Di Dapil I (Kecamatan Cibinong) juru bicara pasangan HMD-N (Maman Daning-Nurdin) Arifudin menjadi calon legislatif Partai Golkar nomor urut tiga di bawah calon bupati sekaligus ketua DPD PG Kabupaten Bogor Fitri Putra Nugraha (Nungki) dan Bendahara DPD PG Kabupaten Bogor Mursidin. Artinya, jika Nungki menjadi bupati pada putaran kedua nanti, otomatis Arifudin berada di posisi kedua. (Radar Bogor, 06/10/2008)
KOMENTAR:
Di putaran pertama Pilbup Bogor mereka begitu berseteru dan berambisi untuk memenangkan Pilbup. Di putaran kedua mereka saling menjajaki kerjasama dan koalisi. Inilah buruknya demokrasi, selalu mengedepankan kepentingan pragmatis dan menghilangkan idealisme. Sehingga aturan dan kebijakan yang dihasilkan pun akan cenderung bersifat kompromistis.
Menjelang putaran dua Pilbup Bogor, konsolidasi terus digalang tim sukses pasangan Nungki-Endang (Nu Sae) dan Rachmat Yasin-Karyawan Faturachman (Rahman). Tiga pasangan yang gagal ke putaran dua yakni Djurus (Djuher-Rusdi), HMD-N (Maman Daning-Nurdin) dan Sae (Soenmandjaja-Ace Supeli) dikabarkan terus didekati Rahman dan Nu Sae. (Radar Bogor, 06/10/2008)
Di Dapil I (Kecamatan Cibinong) juru bicara pasangan HMD-N (Maman Daning-Nurdin) Arifudin menjadi calon legislatif Partai Golkar nomor urut tiga di bawah calon bupati sekaligus ketua DPD PG Kabupaten Bogor Fitri Putra Nugraha (Nungki) dan Bendahara DPD PG Kabupaten Bogor Mursidin. Artinya, jika Nungki menjadi bupati pada putaran kedua nanti, otomatis Arifudin berada di posisi kedua. (Radar Bogor, 06/10/2008)
KOMENTAR:
Di putaran pertama Pilbup Bogor mereka begitu berseteru dan berambisi untuk memenangkan Pilbup. Di putaran kedua mereka saling menjajaki kerjasama dan koalisi. Inilah buruknya demokrasi, selalu mengedepankan kepentingan pragmatis dan menghilangkan idealisme. Sehingga aturan dan kebijakan yang dihasilkan pun akan cenderung bersifat kompromistis.
Rabu, 23 Juli 2008
Demokrasi HANCURKAN Bangsa
INFO:
"Pemerintah dari ACEH sampai PAPUA terjerat KORUPSI...."
Kwik Kian Gie: "Demokratisasi justru membuat bangsa ini kehilangan kedaulatan dalam politik, ekonomi dan budaya" (KOMPAS, 21/07/2008)
KOMENTAR:
Telah nyata kebobrokan DEMOKRASI.
Tapi mengapa demokrasi terus dielu-elukan? Saatnya terapkan aturan dan nilai ISLAM.
"Pemerintah dari ACEH sampai PAPUA terjerat KORUPSI...."
Kwik Kian Gie: "Demokratisasi justru membuat bangsa ini kehilangan kedaulatan dalam politik, ekonomi dan budaya" (KOMPAS, 21/07/2008)
KOMENTAR:
Telah nyata kebobrokan DEMOKRASI.
Tapi mengapa demokrasi terus dielu-elukan? Saatnya terapkan aturan dan nilai ISLAM.
Senin, 07 Juli 2008
Demokrasi, Pilihan Baik?
INFO : Warga Perumahan Bukit Asri Rw 13 Desa Pagelaran Kec. Ciomas Kab. Bogor menggelar pemilihan ketua RW secara langsung. “Pemilihan Ketua RW secara langsung ini kita gelar sebagai ajang pembelajaran bagi masyarakat untuk berdemokrasi.” ujar anggota panitia pemilihan, Seno Herutomo (Radar Bogor, 25/06/2008)
KOMENTAR :
Kasihan umat ini. Memahami pemilihan umum hanya sebagai bentuk berdemokrasi. Padahal, Islam pun mengatur proses pemilihan umum dan mengaktegorikan pemilu sebagai salah satu dari beberapa cara yang dapat ditempuh untuk menetapkan pemimpin daerah atau negara.
KOMENTAR :
Kasihan umat ini. Memahami pemilihan umum hanya sebagai bentuk berdemokrasi. Padahal, Islam pun mengatur proses pemilihan umum dan mengaktegorikan pemilu sebagai salah satu dari beberapa cara yang dapat ditempuh untuk menetapkan pemimpin daerah atau negara.
Kamis, 26 Juni 2008
Koalisi Salah Kaprah
INFO : Partai Golkar mengusulkan agar Presiden SBY segera mengkaji ulang keberadaan koalisi parpol pendukung pemerintah. Langkah itu perlu dilakukan lantaran saat ini anggota koalisi terkesan tidak memiliki komitmen kebersamaan dalam mendukung pemerintah. Wakil Ketua mum DPP Partai GOlkar, Agung Laksono, menuturkan dalam logika koalisi, parpol pendukung pemerintah harus tahu betul tugasnya. Begitu pula, pihak yang didukung (pemerintah) harus juga memahami peran pendukungnya (SINDO, 26/06/2008)
KOMENTAR :
Koalisi untuk memperjuangkan kepnetingan rakyat dan Negara secara benar adalah sesuatu yang harus diwujudkan. Faktanya, koalisi lebih sering disalah-artikan untuk membela kepentingan pragmatis parpol yang bersangkutan
KOMENTAR :
Koalisi untuk memperjuangkan kepnetingan rakyat dan Negara secara benar adalah sesuatu yang harus diwujudkan. Faktanya, koalisi lebih sering disalah-artikan untuk membela kepentingan pragmatis parpol yang bersangkutan
Labels:
Demokrasi,
Kinerja Pemerintah,
Partai Politik,
Politik,
Pragmatis
Senin, 23 Juni 2008
Rakyat Demo, karena Pemerintah Bersikap Abai

INFO: Pendemo tak hanya menghambat pengguna lalulintas, tetapi juga pekerjaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pengeras suara besar yang dihadapkan ke istana kerap mengganggu tugas kepresidenan. “Mungkin yang demo cuma 50 orang, tetapi membawa kendaraan dan membawa loudspeaker (pengeras suara). Saya tidak bisa kerja. Wapres juga tidak bisa kerja,” kata SBY (Radar Bogor, 23/06/2008)
KOMENTAR:
Menggunakan Pengeras Suara saja, Pemerintah kadang TIDAK PEDULI terhadap aspirasi rakyat. Sikap abai pemerintah-lah yang menyebabkan rakyat berdemo. Agar didengar pemerintah, digunakanlah pengeras suara, sehingga pemerintah tidak sibuk dengan pekerjaan mengurusi kepentingan asing dan para kapitalis.
KOMENTAR:
Menggunakan Pengeras Suara saja, Pemerintah kadang TIDAK PEDULI terhadap aspirasi rakyat. Sikap abai pemerintah-lah yang menyebabkan rakyat berdemo. Agar didengar pemerintah, digunakanlah pengeras suara, sehingga pemerintah tidak sibuk dengan pekerjaan mengurusi kepentingan asing dan para kapitalis.
Labels:
Demokrasi,
Kinerja Pemerintah,
Pengeras Suara,
Rakyat Kecil,
Sekuler
Senin, 31 Maret 2008
Rebutan Berkuasa
KPUD akhirnya memutuskan hasil perhitungan suara Pilkada Kota Sukabumi 2008. Kemenangan pasangan Muslikh-Mulyono (Muslim) ditandai aksi penolakan saksi Yudiwan yang tidak mau menandatangani berita acara penetapan suara yang digelar di Gedung Gede Pangrango Komplek Secapa Polri, Minggu (163) kemarin. (JURNAL BOGOR, 17/03/2008)
KOMENTAR : Banyak yang mengikuti PILKADA hanya karena ingin berkuasa dan memperoleh akses kepada kekayaan yang lebih besar. Sedikit sekali, bahkan bisa dikatakan tidak ada, politisi yang memiliki cita-cita mensejahterakan rakyat yang memilihnya. Bahkan kecenderungan yang ada mereka melupakan rakyat di kala telah menjadi pemimpin dan penguasa.
KOMENTAR : Banyak yang mengikuti PILKADA hanya karena ingin berkuasa dan memperoleh akses kepada kekayaan yang lebih besar. Sedikit sekali, bahkan bisa dikatakan tidak ada, politisi yang memiliki cita-cita mensejahterakan rakyat yang memilihnya. Bahkan kecenderungan yang ada mereka melupakan rakyat di kala telah menjadi pemimpin dan penguasa.
Langganan:
Postingan (Atom)