Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juli 2008

Petani & Pertanian Tidak Diperhatikan

Lahan pertanian di wilayah Kabupaten Bogor menyusut. Penyebabnya hilangnya lahan kering maupun basah ini karena kurangnya perhatian Pemkab dalam menjabar visi bupati khususnya pengembangan sektor pertanian. Saat ini saja, di bumi tegar beriman sebagian besar petani hanya sebagai buruh tani di lahan pertanian. Diprediksikan 10 tahun mendatang lahan pertanian di wilayah ini bakal habis. (Radar Bogor, 05/07/2008)

KOMENTAR :
Menyedihkan! Pemerintah lebih tertarik meningkatkan Angka Pertumbuhan Ekonomi, sehingga dapat menarik Investor menanamkan modalnya. Sedangkan investor tidak tertarik “sama sekali” terhadap sektor pertanian, karena pengembangannya yang cenderung lambat. Jadi, pertanian dan petani –yang mayoritas di negeri ini– tidak mendapatkan perhatian. Yang diuntungkan, “selalu” saja pengusaha dan pemilik modal.

Perilaku Buruk Para Pengusaha

INFO : Sejumlah warga Kelurahan Mulyaharja Kecamatan Bogor Selatan memprotes ulah Pengembang Bogor Nirwana Residence. “Warga di wilayah kami resah karena selalu diintimidasi agar menjual tanahnya kepada BNR,” ujar Ketua Kelompok Tani Cibeureum Jempol Kelurahan Mulyaharja Amin. (Radar Bogor, 25/06/2008)

KOMENTAR :
Penggunaan cara kekerasan kerap kali dilakukan oleh pengusaha untuk melancarkan bisnisnya. Halal-haram tidak lagi menjadi patokan. Kapitalisme telah berhasil menciptakan perilaku buruk para pengusaha.

Kamis, 26 Juni 2008

Milik Rakyat, Kembalikan pada Rakyat

INFO : Pemerintah akan merestrukturisasi tarif listrik pada 2010 dengan mencabut subsidi untuk pelanggan mampudan menerapkan tarif secara regional. "Jika tidak, konsekuensinya subsidi listrik justru akan semakin besar dan terus-menerus membebani negara." tandas Nanda Avianto Wicaksono dari Lembaga Penelitian dan pengkajian ReforMiner Institute (SINDO, 13/06/2008)

KOMENTAR:
Aneh, negara tidak mau dibebani rakyat. Salah satu tugas negara adalah mengurusi rakyat. Dana apa yang dikelola negara sejatinya adalah milik rakyat. Sudah semestinya negara berupaya keras mensejahterakan rakyat.

Patuhi Kepentingan Asing, Tinggi Ongkosnya

INFO : Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pemerintah sengaja memperbesar volume premium dan solar bersubsidi pada 2009 untuk menjaga agar tekanan inflasi tidak begitu tinggi. "Bicara tentang penghematan tentu kita harus melihat apakah ongkosnya kemudian menghambat kegiatan ekonomi, munculnya inflasi dan lain-lain," ujarnya (SINDO, 13/06/2008)

KOMENTAR : Hal ini mestinya disadari pemerintah sejak awal. Faktanya kenaikan harga BBM, akibat dicabutnya subsidi, semakin mempersulit masyarakat dan meningkatkan angka Kemiskinan. Fakta ini harus senantiasa dilihat dan diperhatikan. Jangan "melihat" kepentingan Asing dan Pengusaha saja

Rabu, 25 Juni 2008

"Ulah" Kapitalis pada Rakyat Kecil

INFO : Sejumlah warga Kelurahan Mulyaharja Kecamatan Bogor Selatan memprotes ulah pengembang Bogor Nirwana Residence (BNR). Pasalnya, ada oknum BNR yang sering melakukan intimidasi kepada warga untuk menjual tanah kepada pengembang perumahan tersebut. Tak hanya itu, puluhan petani penggarap di Kelurahan Mulyaharja pun kehilangan mata pencaharian, karena sawah yang mereka garap digusur paksa oleh pihak BNR. Lahan yang digusur adalah padi siap panen seluas 5 hektare tanpa koordinasi dengan petani yang bersangkutan. (Radar Bogor, 25/06/2008)

KOMENTAR :
Para Kapitalis kembali "berulah". Rakyat Kecil tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperjuangkan hak-haknya. Pemerintah tidak peduli.
Lihatlah! Kapitalisme telah berhasil merusak tatanan kehidupan.....!!

Sabtu, 21 Juni 2008

Jamu Palsu akibat Kapitalistik

54 produk jamu berbahaya tidak saja berbahaya bagi kesehatan, tapi juga mencantumkan nomor registrasi fiktif. Tentu saja hal itu sudah melanggar ketentuan yang ada. “Produk ini hanya menempel nomor registrasi Departemen yang fiktif. Tidak sesuai bahkan tidak tercantum pada daftar registrasi yang dimiliki Depkes. Jelas hal ini sudah melanggar, maka itu produk ini harus segera dimusnahkan dari pasaran,” jelas Kasi Perdagangan Disperindagkop Kota Bogor, Suminto. (Radar Bogor, 18/06/2008)

KOMENTAR :
1) Perekonomian yang dijalankan secara kapitalistik, dan
2) Fungsi pengawasan & perlindungan pemerintah yang tidak berjalan dgn semestinya, Adalah dua penyebab munculnya praktik-praktik bisnis yang tidak memandang halal dan haram di tengah masyarakat.

Senin, 31 Maret 2008

Kapitalis-Sekuler Ciptakan Manusia Rakus

Aparat Polresta Sukabumi berhasil mengamankan sekitar 16 ribu liter bahan bakar minyak tanah bersubsidi. Penyitaan dilakukan petugas menyusul kepemilikan bahan bakar tersebut tidak dilengkapi dokumen resmi. Diduga bahan bakar itu akan disalurkan pemiliknya ke sejumlah perusahaan industri. (Jurnal Bogor, 17/03/2008)

KOMENTAR : Kapitalis-Sekuler “berhasil” membentuk watak masyarakat menjadi rakus dan tidak peduli kepada sesama. Masihkah percaya kepada Kapitalis-Sekuler? Padahal Allah telah memberikan aturan yang sangat baik dan cocok untuk manusia. Yang mampu memposisikan manusia sebagai manusia.

Selasa, 11 Maret 2008

Akhlaq para Pejabat Memprihatinkan

Kasus suap Urip Tri Gunawan menjadi inspirasi bagi Jaksa Agung Hendarman Supandji untuk mereformasi gaji jajarannya. Ini karena gaji yang diterima para penuntut umum itu, terlalu kecil dibandingkan dengan tugas beratnya. Dalam rapat kerja dengan DPR yang berakhir pukul 01.00 dini hari tadi, Hendarman telah menugaskan Wakil Jaksa Agung Muchtar Arifin dan Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk mengkaji gaji para jaksa. Gaji jaksa saat ini memang memprihatinkan. Urip Tri Gunawan yang tergoda suap Rp 6 miliar itu ternyata hanya bergaji Rp 3,5 juta. Jumlah itu tentu sangat kecil bagi seorang yang bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang menuntut tanggungjawab besar. Bayangkan, Urip harus menjadi kordinator untuk mengusut dana BLBI Sjamsul Nursalim yang nilainya Rp mencapai 39 triliun itu. (indopos.com, 06/03/2008)

KOMENTAR : Yang lebih memprihatinkan lagi adalah rusaknya akhlaq para pejabat. Mereka hanya memikirkan kepentingannya. Rakyat dilupakan dan dibiarkan dalam kemiskinan, kelaparan dan kemaksiyatan. Korupsi dan suap-menyuap tidak akan berhenti dengan menaikkan gaji, jika Akhlaq MASIH RUSAK !

Senin, 10 Maret 2008

Pemerintah yang Tidak Peduli

Ratusan mahasiswa di Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/3) siang, berdemonstrasi di halaman Gedung Sate. Mereka mengecam aksi militer Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza. Selain berorasi, pengunjuk rasa juga menggelar aksi teatrikal. Aksi ini untuk menggugah kepedulian masyarakat Islam terhadap rakyat Palestina yang kini tengah ditekan Israel. Sekaligus mengecam masyarakat internasional, termasuk Pemerintah Indonesia yang seolah tutup mata atas tragedi di Palestina. (lip6.com, 07/03/2008)

KOMENTAR : Pemerintah Indonesia memang selalu "menutup mata" terhadap persoalan-persoalan yang terjadi. Mereka akan merespon dan peduli di kala terdapat hal yang menguntungkan kepentingannya. Lihat saja! Rakyatnya sendiri dibiarkan hidup dengan kemiskinan. BBM, Listrik dijual dengan harga mahal. Minyak Goreng, Kedelai, Beras dibiarkan naik. Busung Lapar terjadi dimana-mana, termasuk di daerah yang dinobatkan lumbung padi (NTT). Anak putus sekolah semakin banyak, sampai ada yang bunuh diri gara-gara malu tidak bisa bayar sekolah. Apalagi saat ini, mereka lebih senang mempersiapkan aksi-aksi untuk memenangkan Pemilu 2009. Rakyat dilupakan....

Ada Apa dengan Rakyat?


Kasus jatuhnya korban jiwa akibat penyakit busung lapar merupakan tamparan bagi pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasalnya daerah ini sempat mendapat julukan sebagai salah satu lumbung beras di NTT, menyusul keberhasilan pengembangan sawah tadah hujan sejak empat tahun silam. Sejumlah kalangan menilai bahwa kasus ini merupakan bukti kegagalan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao dalam melaksanakan pembangunan. (SP.com, 08-03-2008)

KOMENTAR : Perhatian Pemerintah terhadap rakyatnya memang sangat minim. Mereka terlalu sibuk untuk "menyelamatkan" kepentingan mereka. Undang-undang dibuat dilakukan dengan cara kompromistis, program dilakukan jika "menguntungkan" kelompok dan pribadi mereka. Ini akibat ongkos politik yang mahal dan menghambur-hamburkan uang. Tidak sedikit pejabat di awal penjabatannya berkonsentrasi untuk "balikin modal". Wakil rakyat tidak pernah peduli rakyat! Rakyatnya juga terlalu mudah "diiming-imingi". Ada apa dengan Wakil Rakyat? Ada apa dengan rakyat?

Rabu, 31 Oktober 2007

Masyarakat KONSUMTIF karena KAPITALISME


"Perbankan nasional terus menggenjot pertumbuhan kredit konsumsi seperti kredit kepemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB) dan penggunaan kartu kredit. Kecenderungan bank menggenjot kredit konsumsi, karena daya beli masyarakat yang relatif membaik seiring dengan penurunan suku bunga" (Suara Pembaruan Daily, 31/10/2007)

KOMENTAR: Dalam sistem KAPITALISME masyarakat akan cenderung dan "didorong" untuk bergaya hidup KONSUMTIF. Beda dengan ISLAM. Masyarakat oleh ISLAM akan didorong dan dibentuk menjadi masyarakat yang senantiasa membelanjakan hartanya sesuai dengan SYARIAT ALLAH. Tidak untuk kepentingan duniawi sesaat. Mereka akan didorong untuk senantiasa BERHEMAT, berbelanja hal-hal yang bermanfaat dan menggunakan hartanya untuk "bekal di akhirat".